TabloidTipikorNews.com
Setelah kami memutuskan untuk menjalin cinta, semuanya terasa berbeda.
Jika dahulu ia membantuku untuk berdiri, kini ia menggenggam tanganku untuk berjalan bersama.
Kami mulai saling mencintai. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti kisah anak muda, melainkan cinta yang tenang, dewasa, dan saling menguatkan. Cinta yang tumbuh dari dua hati yang pernah terluka dan sama-sama mengenal arti kehilangan.
Setiap pagi, ia selalu bertanya,
“Sudah sarapan? Jangan lupa jaga kesehatanmu.”
Begitu pula pada malam hari, aku selalu memastikan,
“Kamu sudah pulang? Hati-hati di jalan.”
Mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dari perhatian-perhatian kecil itulah aku mulai memahami arti cinta yang tulus.
Suatu ketika, aku pernah bertanya kepadanya,
“Kenapa kamu bisa mencintaiku? Padahal aku ini laki-laki yang baru saja terjatuh dan tersungkur. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”
Ia menjawab sambil menatap mataku,
“Aku tidak mencintaimu karena apa yang kamu punya. Aku mencintaimu karena bagaimana kamu berusaha bangkit. Laki-laki yang mampu bangkit setelah dikhianati adalah laki-laki yang akan belajar menjaga dan menghargai cintanya. Dan aku melihat itu ada pada dirimu.”
Kata-katanya membuatku semakin yakin bahwa cinta tidak selalu datang ketika seseorang berada dalam keadaan terbaiknya. Terkadang, cinta justru hadir ketika seseorang sedang berusaha mengumpulkan kembali kepingan hidupnya.
Kami mulai saling mencintai dengan cara kami sendiri.
Tidak banyak janji manis. Tidak banyak kata-kata gombal. Yang ada hanyalah ketulusan dan pembuktian.
Ketika salah satu lelah, yang lain hadir untuk menguatkan. Ketika salah satu terjatuh, yang lain siap mengulurkan tangan untuk membantu bangkit.
Pada 31 Agustus 2026, aku pernah jatuh sendirian.
Namun, kini, di bulan-bulan setelahnya, aku belajar kembali merasakan indahnya jatuh cinta. Bersama seorang wanita yang dahulu menolongku berdiri, dan kini memilih berjalan bersamaku.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari perjalanan cinta ini. Namun, satu hal yang aku yakini, kisah ini belum selesai.
Karena setiap hari, rasa itu semakin tumbuh dan semakin dalam.
Bersambung ke Part 6…
Penulis: Rizky
