(Foto : Ilustrasi)
Tabloidtipikornews.com – Jakarta.
Jika dibuka lembaran arsip nasional, Jakarta tempo dulu bukanlah kota yang kita kenal sekarang. Tidak ada deretan gedung kaca setinggi puluhan lantai. Yang ada adalah jalan-jalan yang masih bisa dihirup udaranya dengan tenang, pasar yang riuh oleh tawar menawar, dan trem yang melintas pelan membelah kota.
Dokumen dan karya tulis sejarah menggambarkan Jakarta pada 1950-an hingga 1970-an sebagai kota dengan ritme yang lebih lambat. Pusat kota berkumpul di sekitar Kota Tua, Glodok, dan Senen. Di sana, pedagang menggelar dagangan sejak subuh. Becak dan bus kota menjadi pemandangan sehari-hari. Anak-anak masih bisa bermain di lapangan terbuka tanpa terganggu suara klakson.
Arsip pemerintahan mencatat, Jakarta saat itu masih dipenuhi rawa dan kebun. Interaksi sosial berjalan erat. Tetangga saling kenal. Kehidupan digerakkan oleh komunitas kecil: pegawai kantor, pekerja pabrik, guru, dan pedagang pasar.
Perubahan besar mulai terasa sejak 1980-an. Arus urbanisasi deras masuk. Lahan kosong berubah jadi kawasan industri dan perumahan. Jalan protokol diperlebar. Jakarta mulai tumbuh vertikal. Catatan arsip menyebut periode ini sebagai awal Jakarta bertransformasi menjadi kota metropolitan.
Loncat ke hari ini
Sekarang, Jakarta berdenyut 24 jam. Langit kotanya dipenuhi gedung pencakar langit di Sudirman, Kuningan, dan Thamrin. MRT dan LRT melintas di atas dan di bawah tanah, membawa jutaan orang bekerja setiap hari.
Pagi hari dimulai dengan kemacetan. Siangnya, pusat perbelanjaan penuh. Malamnya, kafe dan ruang publik masih ramai. Ekonomi Jakarta kini digerakkan oleh sektor jasa, keuangan, teknologi, dan industri kreatif. Pasar tradisional masih bertahan, berdampingan dengan aplikasi belanja online yang bisa mengantar barang dalam hitungan jam.
Tapi di balik modernitas itu, arsip juga mengingatkan kita pada persoalan lama yang belum selesai: banjir, kemacetan, dan kesenjangan. Data perencanaan kota terbaru masih menyebut hal yang sama seperti puluhan tahun lalu, hanya skalanya yang berbeda.
Benang merah masa lalu dan kini
Seorang peneliti sejarah pernah menulis, kota tidak pernah melupakan jejaknya. Jakarta hari ini adalah akumulasi dari keputusan, kebijakan, dan cara hidup warganya sejak dulu.
Karena itu arsip penting. Bukan untuk membuat kita terjebak nostalgia, tapi untuk belajar. Dari arsip kita tahu Jakarta pernah punya ruang terbuka. Dari data kini kita tahu Jakarta butuh transportasi publik yang adil. Dari keduanya kita bisa merancang Jakarta yang lebih manusiawi ke depan.
Digitalisasi arsip nasional saat ini membuat cerita ini makin mudah dijangkau. Agar anak muda Jakarta tidak hanya tahu Monas dan MRT, tapi juga tahu bagaimana kota ini dibentuk, selangkah demi selangkah.
Jakarta terus berubah. Tapi selama kita masih mau membaca arsipnya, kota ini tidak akan kehilangan ingatannya.
Penulis : Ari ND
