(Foto Istimewa)
REFLEKSI – TABLOID TIPIKOR
11 Oktober 2007.
Hari itu dunia saya seperti berhenti.
Bukan karena saya mati.
Tetapi karena hidup terasa jauh lebih sakit daripada kematian.
Dunia tetap berjalan, tetapi saya seperti kehilangan arah. Saya berjalan, namun tidak tahu ke mana tujuan saya. Saya berbicara, tetapi seolah tidak ada yang mendengar suara saya.
Saat itu, rasanya tidak ada seorang pun yang ingin mengenal saya.
Saudara menjauh.
Kerabat seolah sibuk dengan kehidupannya sendiri.
Teman-teman yang kemarin masih tertawa bersama, hari ini melewati saya seakan tidak pernah mengenal.
Rasanya seperti menjadi bayangan di kota sendiri.
Ada, tetapi tidak dianggap.
Hidup, tetapi tidak dipedulikan.
Ketika malam menjelang, semuanya terasa semakin sunyi. Namun anehnya, justru kesunyian itulah yang setia menemani saya ketika hampir semua orang pergi.
Saya pernah berpikir, mungkin inilah akhir dari semuanya.
Saya bahkan sempat bertanya dalam hati:
Apakah Tuhan sudah melupakan saya?
Namun ternyata, saya salah.
Di balik kegelapan yang saya rasakan, justru saya melihat sesuatu yang tidak pernah saya lihat ketika semuanya terang.
Saya mulai melihat dengan jelas.
Siapa yang benar-benar tulus.
Siapa yang hanya datang ketika membutuhkan.
Siapa yang menyayangi karena ketulusan.
Dan siapa yang berada di dekat kita karena kepentingannya sendiri.
Di titik kehidupan yang paling rendah, saya belajar membaca karakter manusia.
Tidak melalui kata-kata.
Tidak melalui janji.
Tetapi melalui tindakan.
Cukup melihat siapa yang masih bertahan ketika kita tidak punya apa-apa, dan siapa yang menjadi orang pertama yang meninggalkan kita ketika keadaan berubah.
11 Oktober 2007.
Hari ketika saya merasa kehilangan hampir semuanya.
Tetapi justru pada hari itulah saya mulai menemukan diri saya.
Saya belajar bahwa jatuh bukanlah sesuatu yang memalukan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kita memilih untuk tetap terbaring, sementara kehidupan terus berjalan.
Saya juga belajar bahwa kegelapan bukan selalu bentuk hukuman.
Terkadang, kegelapan adalah ruang tempat kita belajar melihat cahaya.
Sebab dalam keadaan gelap, cahaya sekecil apa pun akan terlihat sangat berarti.
Untuk siapa pun yang saat ini sedang berada di titik terendah dalam hidupnya:
Tidak apa-apa menangis.
Tidak apa-apa merasa lelah.
Tidak apa-apa merasa sendirian.
Tetapi jangan berhenti.
Jangan menganggap bahwa keadaan hari ini adalah akhir dari seluruh kehidupan.
Bisa jadi, apa yang sedang kita anggap sebagai kehancuran justru sedang menjadi proses Tuhan untuk membentuk kita menjadi manusia yang lebih kuat.
Suatu hari nanti, mungkin kita akan melihat kembali masa-masa gelap itu dan berkata:
“Ternyata saya harus melewati semua itu untuk menjadi diri saya yang sekarang.”
Karena terkadang, kita baru memahami arti cahaya setelah cukup lama berada dalam kegelapan.
Dan hari ini saya memahami satu hal:
11 Oktober 2007 bukan hanya tanggal ketika saya jatuh paling dalam.
Itu adalah tanggal ketika, di tengah kedalaman yang tidak mampu saya lewati seorang diri, Tuhan mengangkat dan menarik saya kembali.
Saya pernah merasa semua orang meninggalkan saya.
Tetapi ternyata saya tidak pernah benar-benar sendirian.
Karena ketika manusia pergi, Tuhan tetap ada.
Dan dari sanalah saya kembali belajar berdiri.
(RZK)
