(Foto:Dok Suryana)
TANGERANG | TabloidTipikorNews.com
Banjir kembali mengepung warga Kampung Cayur, Desa Sindangsono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Kamis (22/1/2026). Ironisnya, di tengah penderitaan warga, bantuan dari instansi pemerintah belum juga terlihat di lokasi.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama dua hari tanpa henti menyebabkan Sungai Cimanceri dan Kali Walugan meluap, lantaran aliran air tidak mampu mengalir normal menuju Kali Cimanceri. Akibatnya, sedikitnya 5 RT terendam banjir.
Data di lapangan menunjukkan, RW 02 menjadi wilayah terdampak paling parah dengan sekitar 40 rumah warga terendam, sementara di RW 01 terdapat 10 rumah yang ikut tergenang. Ketinggian air mencapai ±40 sentimeter, salah satunya merendam rumah Bapak Mustopa, warga Kampung Cayur, Desa Sindangsono.
Mirisnya, hingga berita ini diturunkan, warga mengaku belum menerima bantuan apa pun dari BPBD maupun dinas terkait. Kondisi tersebut memicu berbagai keluhan serius, terutama masalah kesehatan. Sejumlah warga mulai mengalami penyakit gatal-gatal akibat terlalu lama terendam air banjir.
Selain obat-obatan, warga juga sangat membutuhkan bantuan makanan siap saji, mengingat banyak rumah warga tidak bisa digunakan untuk memasak. Situasi ini membuat korban banjir berada dalam kondisi serba darurat.
Warga Kampung Cayur secara terbuka meminta BPBD Kabupaten Tangerang dan instansi terkait untuk segera turun ke lokasi, bukan hanya melakukan pendataan, tetapi juga memberikan bantuan nyata dan cepat. Mereka menilai penanganan banjir masih terkesan lamban dan tidak responsif.
Di tengah minimnya kehadiran pemerintah, justru solidaritas warga yang bergerak lebih dahulu. Para donatur yang dikoordinir Ketua RW 01, Bapak Manus (Pak Jaro) berinisiatif menggalang dana, membuka posko banjir dan dapur umum untuk membantu korban terdampak.
Sementara itu, Kepala Desa Sindangsono, H. Apandi, SH, diketahui telah mengerahkan aparat desa untuk melakukan pendataan warga terdampak. Namun warga berharap langkah tersebut tidak berhenti pada pendataan semata, melainkan diikuti dengan aksi cepat dari pemerintah daerah.
Banjir yang kembali berulang ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah, khususnya dalam pengelolaan drainase dan normalisasi sungai. Warga menuntut solusi nyata, bukan sekadar janji, agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.(Suryana)

